Departemen Fisika IPB Hadirkan Pakar Teknologi Plasma, Bahas Mulai Teori Hingga Produk Komersial.

Kamis (24/2/22), Departemen Fisika FMIPA IPB University melalui kegiatan Physics Talk edisi 24 kembali hadirkan peneliti, pakar, dan praktisi di berbagai bidang keilmuan fisika. Kali ini, pakar teknologi plasma dari Center for Plasma Research Universitas Diponegoro, yaitu Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA hadir secara daring. Prof. M. Nur membawakan materi berjudul “Sains dan Teknologi Plasma dari Laboratorium  Menjadi Produk Inovasi untuk Rakyat dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa.”

Riset yang dilakukan di Center for Plasma Research adalah riset plasma dingin. Plasma sendiri secara sederhana yaitu gas terionisasi pada suhu tinggi dan mampu mengalirkan muatan listrik, dengan petir sebagai contoh nyata di alam. Sebagai wujud zat yang keempat setelah padat, cair, dan gas, plasma memiliki hukum termodinamika yang berbeda dengan wujud zat lain, dan memiliki banyak aplikasi.

Prof. M. Nur menyampaikan, plasma dingin menghasilkan berbagai spesies plasma yaitu ion-ion, elektron, radikal, atom dan molekul tereksitasi, foton, serta radiasi UV. Plasma udara (atmospheric plasma) melalui “plasma gun” yaitu tembakan elektron dipercepat dapat menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS), yang bermanfaat di berbagai bidang. ROS dan RNS yang dihasilkan diantaranya superoxide (O2⋅_), hydroxyl (⋅OH), peroxyl (RO2⋅), alkoxyl (RO_), hypochlorous acid (HOCl), ozon (O3), singlet oxygen (1O2), hydrogen peroxide (H2O2), nitric oxide (NO.), peroxynitrite (ONOO.), dan nitrogen dioxide (NO2).

Prof. M. Nur menceritakan perjalanan tim selama dua dekade dalam mengembangkan reaktor plasma berbasis lucutan berpenghalang dielektrik/ Dielectrics Barrier Discharge (DBD). Landasan teori yang digunakan adalah rumus Robinson (1961) yang dimodifikasi sehingga dapat dihasilkan reaktor DBD-plasma dengan sistem multi-dielektrik. Teknologi DBD terus dikembangkan menjadi Double Dielectrics Barrier Discharge DDBD dan dijadikan generator Ozon.

Disisi lain, penguasaan aspek ilmiah untuk invensi dan inovasi saja tidak cukup untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Ada jurang yang cukup lebar antara inovasi dengan pengembangan ekonomi dan sosial. Jurang ini menjadi “lembah kematian” karena sebagian besar ilmuan di Indonesia hanya bekerja disisi penelitian, inovasi, mungkin dalam skala laboratorium, tetapi tidak dapat mengembangkan invensi dan inovasinya untuk komersial. Disinilah diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi dan perusahaan untuk mengembangkan produk akhir yang siap dipasarkan.

Produk unggulan yang telah dihasilkan oleh Center for Plasma Research adalah implementasi produk plasma dingin untuk kebersihan udara dalam ruangan. Produk ini diberi merek dagang “Zeta Green”. Produk ini dapat mengurangi laju transmisi bakteri, virus, dan jamur, serta mengurangi bau tidak sedap, asap rokok, dan polusi lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan produk meningkat karena pandemi Covid-19. Hasil pengujian menunjukkan Zeta Green dapat menghambat virus SARS-CoV-2-2ml hingga 100% selama 1 jam. Plasma dingin dapat membunuh virus dan bakteri karena ROS dan RNS yang diemisikan plasma secara umum dapat merusak ikatan kimia pada dinding sel, melubangi membran sel, menyebabkan peroksidasi pada lipid membran, mengurangi replikasi sel, merusak DNA dan RNA, denaturasi protein, serta hilangnya aktivitas enzim.

Di bidang pertanian dan holtikultura, dihasilkan produk berupa alat penyimpanan produk holtikultura pascapanen menggunakan teknologi ozon. Selain alat itu sendiri, Prof. M. Nur juga menjadi konseptor rancangan SNI untuk syarat mutu dan metode uji teknologi ini. Teknologi plasma ozon pada pengolahan hasil holtikultura ini terdiri dari 7 langkah standar, yang jika diaplikasikan dengan benar dapat mengurangi pembuangan produk pascapanen hingga maksimal 3% pada cabai.

Produk yang masih dalam pengembangan adalah generator ozon untuk diaplikasikan di bidang medis. Salah satunya adalah untuk menyembuhkan luka lebih cepat.

Di sesi tanya jawab, Prof. M. Nur juga menyampaikan aplikasi plasma dalam pembersihan limbah, contohnya limbah air cuci kain batik. Dengan teknologi nanobubble, ozon dialirkan ke dalam air limbah dan pewarna akan terpisah dari air cuci sehingga bisa dibuang dengan aman ke lingkungan.

Kesimpulan disampaikan oleh moderator, Dr. Irzaman tentang pentingnya riset hulu ke hilir untuk meningkatkan kemandirian bangsa, dan kerjasama agar dapat dihasilkan produk komersial.

Kegiatan ditutup oleh Kepala Divisi Fisika Terapan, Dr. Irmansyah dan Ketua Departemen Fisika IPB Prof. Tony Ibnu Sumaryada. Dr. Irmansyah menekankan bahwa seorang peneliti selain berkecimpung di keilmuan juga bisa membangun karya ditengah masyarakat, terutama meningkatkan kesejateraan petani. (rfa)

Peduli Stunting Ibu Hamil dan Balita Berisiko di Lingkar Desa Kampus IPB Dramaga

Kelurahan Situgede Kecamata Bogor Barat terletak di bagian barat lingkar kampus IPB Dramaga. Memiliki 10 RW dengan jumlah penduduk 8.557 jiwa dan berpenghasilan utama buruh. Kampung Rawajaha RW 03 merupakan bagian dari Kelurahan Situgede dan objek dari program kegiatan ini. Penyuluhan ibu hamil dalam pola asuh bayi dan balita merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh kelurahan setiap bulannya. Keterlibatan LPPM IPB, mahasiswa dan dosen merupakan pengabdian masyarakat yang sangat diharapkan oleh warga desa.

Kasus stunting pada anak balita masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Data prevalensi anak balita stunting yang disampaikan WHO, 2018 menyebutkan Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga (36,4%) dengan prevalensi tertinggi di South-East Asian Region setelah Timor Leste (50,5%) dan India (38,4%). Stunting perlu dilihat sebagai persoalan yang penting untuk diatasi karena berkaitan dengan generasi bangsa dan kesejahteraan ibu-anak. Stunting adalah suatu kondisi yang menggambarkan status gizi kurang pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal masa kehidupan yang dipresentasikan dengan nilai z-score berdasarkan parameter tinggi dan berat badan , serta umur. Kemiskinan, kesehatan sanitasi, lingkungan, pendidikan dan pengetahuan ibu yang rendah adalah faktor yang memiliki konsekuensi stunting. Proses implementasi kegiatan pengabdian masyarakat adalah sebagai narasumber dan fasilitator dalam penyuluhan stunting. Objeknya adalah ibu-ibu yang memiliki potensi balita resiko stunting di Kampung Rawajaha RW 03 Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Peserta  meliputi 101 anak balita dan bayi yang didampingi orang tua (ibu) serta 12 ibu hamil. Kegiatan ini dilakukan insitu posyandu dan secara periodik setiap bulannya secara luring. Metode dalam pertemuan langsung meliputi memberikan arahan/ceramah mimbar  dalam mengolah makanan hemat, bersih dan bergizi,  mengajarkan cara pola asuh bayi dan balita, membagikan makanan dan minuman bergizi, memberikan vitamin A serta memfasilitasi edukasi mainan. Kegiatan lain yang dilakukan yaitu bantuan belajar anak-anak TK dan sekolah dasar dalam belajar membaca, menulis dan berhitung matematika. Secara umum keterlibatan yang dilakukan merupakan implementasi langsung dalam mendukung program pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan menunjang pelaksanaan tugas pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia unggul di desa.

Biofisika Corner – Alasan Mengapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat daripada Pergi

Apa kamu pernah merasa perjalanan pulang lebih cepat daripada pergi? Padahal, jarak yang ditempuh sama saja, dengan kecepatan yang sama pula. Menurut pengajar mata kuliah Biofisika dan Kompleksitas pada program studi S2 Biofisika di Institut Pertanian Bogor (IPB), Husin Alatas, gejala ini dikenal sebagai Efek Kappa dalam disiplin ilmu psikologi dan neurosains.

Efek Kappa yaitu saat lama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bagi sebagian orang terasa berbeda, tepatnya ketika mereka pergi dan pulang. Ia melanjutkan, secara fisika, jika menempuh jalur yang sama, tidak ada perbedaan jarak tempuh antara pergi dan pulang. Namun, waktu tempuh akan berbeda bila kecepatan saat pergi dan pulang berbeda.

“Jika pulang dengan kecepatan lebih besar dibanding pergi, tentu waktu pulang lebih singkat dari pergi, dan sebaliknya,” jelas Guru Besar bidang Fisika Teori ini kepada Kompas.com, Sabtu (29/1/2022). Mari kita anggap kecepatan saat pergi dan pulang tetap sama, sehingga waktu yang dibutuhkan pun secara fisika sama. Kendati demikian, sebagian orang mungkin akan tetap merasa bahwa waktu pulang lebih cepat. Hal ini lebih disebabkan oleh cara kerja otak dalam memersepsikan waktu, khususnya terkait jangka waktu sebuah aktivitas.

Berdasarkan penjelasannya, Efek Kappa, yang terkait dengan persepsi terhadap jangka waktu aktivitas oleh otak, merupakan hal yang sangat kompleks dan melibatkan banyak bagian di otak. Tidak hanya itu, dalam kondisi tertentu, persepsi ini mungkin saja ikut melibatkan hormon. Persepsi waktu didasari atas informasi yang diolah oleh otak terkait dengan aktivitas yang dilakukan selama perjalanan. “Rangsangan dari luar yang diterima berupa apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, serta terkait pula dengan kondisi lingkungan yang menyertainya,” terang Husin.  Semua hal tersebut lantas berdampak pada kemampuan otak dalam memersepsikan jangka waktu sebuah aktivitas.

Selain itu, perjalanan pulang yang lebih familiar juga menjadi salah satu faktor. Kembali ke persepsi waktu yang terasa lebih singkat saat pulang, patut diduga bahwa sedikitnya informasi mengenai tempat yang dituju saat pergi dan diketahuinya informasi tentang tempat tersebut saat pulang, menjadi salah satu hal yang memengaruhi cara otak dalam memersepsikan waktu tempuh. Hal lain yang juga mungkin berperan adalah jenis aktivitas yang dilakukan selama perjalanan karena aspek ini terkait erat dengan rangsangan yang diterima. Bila seseorang disibukkan dengan banyak hal selama perjalanan, persepsi waktu perjalanan yang singkat akan cenderung dirasakan. Hal ini jika dibandingkan dengan mereka yang minim aktivitas selama perjalanan berlangsung. “Sebagai kesimpulan, perbedaan waktu, berupa Efek Kappa, yang dirasakan antara pergi dan pulang merupakan fenomena yang terkait dengan cara otak memersepsikan waktu, dan tidak ada hubungannya dengan sifat waktu secara fisika,” pungkas Husin. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Alasan Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat daripada Pergi”, Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2022/02/03/083943327/alasan-kenapa-perjalanan-pulang-terasa-lebih-cepat-daripada-pergi?page=all.
Penulis : Wasti Samaria Simangunsong
Editor : Ni Nyoman Wira Widyanti

Departemen Fisika IPB University Lakukan Penyempurnaan RPS K2020

Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University melakukan Penyempurnaan Kelengkapan Dokumen Pembelajaran K2020, 11/12. 

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka persiapan perkuliahan semester genap tahun akademik 2021/2022 yang dilaksanakan mulai Januari 2022 mendatang. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat menuntaskan format Rencana Pembelajaran Semester (RPS) atau silabus dari semua mata kuliah Program Sarjana Fisika sesuai K2020. 

Saat ini K2020 telah diterapkan pada mahasiswa tahun pertama dan kedua (angkatan 2020 dan 2021). Sementara itu, mahasiswa tahun ketiga dan keempat masih menggunakan kurikulum versi sebelumnya yaitu K2014. 

Salah satu ciri khas dari kurikulum 2020 adalah adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diwujudkan dengan kebebasan mahasiswa untuk mengambil SKS di luar program studi. Beberapa contoh kegiatannya adalah mengambil kuliah di kampus lain, penelitian, proyek lapangan, atau magang di industri.  

Ketua Departemen Fisika IPB University, Dr R Tony Ibnu Sumaryada mengungkapkan, “RPS merupakan komponen utama dalam Curriculum Machinery dari suatu program studi.”

Ia menyebut, apabila RPS semua mata kuliah sempurna maka akan sempurna pula jalannya mesin kurikulum dalam menghasilkan lulusan sesuai dengan Program Educational Objectives (PEO) yang diharapkan. PEO sendiri menggambarkan karir dan capaian profesional yang dapat diraih oleh lulusan program studi. 

Dr Tony melanjutkan, seluruh mata kuliah yang disusun dalam kurikulum hendaknya memenuhi capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang mengacu pada PEO. Tidak hanya itu, RPS sangat penting dalam proses pembelajaran karena mengandung informasi lengkap terkait capaian pembelajaran mata kuliah (CP-MK), kemampuan akhir yang diharapkan pada tiap minggu pembelajaran, indikator dan kriteria penilaian, materi pembelajaran, hingga metode atau strategi pembelajaran. 

RPS memudahkan kinerja tim dosen dalam memberikan pembelajaran yang terstruktur, terencana, dan terstandar sebagai wujud komitmen prodi dan departemen untuk menghasilkan lulusan yang sesuai PEO. Dalam kegiatan konsinyasi ini, telah berhasil disusun beberapa RPS Program Sarjana Fisika yang disetujui baik oleh tim pengembang RPS, Ketua Divisi, Ketua Program Studi, serta Ketua Departemen Fisika.

Dr Tony Sumaryada menambahkan, RPS dan rencana assesment yang terukur secara jelas serta penyusunan laporan portofolio mata kuliah di akhir semester akan sangat memudahkan dalam penyiapan dokumen akreditasi internasional. Menurutnya, akreditasi internasional bagi program studi merupakan salah satu tuntutan Indikator Kinerja Utama (IKU) dari pemerintah yang harus dipenuhi.

Dosen IPB University itu mengaku, Departemen Fisika terus bekerja untuk memperbaiki kualitas layanan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi nasional dan internasional. Saat ini Departemen Fisika IPB University telah memegang predikat Akreditasi Unggul dari BAN-PT. 

“Harapannya, kelengkapan dokumen pembelajaran K2020 mendukung proses akreditasi Internasional yang akan segera dilaksanakan,” pungkas Dr Tony. (*)

Berita ini telah diterbitkan di IPB Today vol. 710 tahun 2021 (https://ipb.ac.id/news/index/2021/12/departemen-fisika-ipb-university-lakukan-penyempurnaan-rps-k2020/ef6f7fbdd889fdeee09f86a8df111df7)

Mantapp…Program Studi S1 Fisika FMIPA IPB Terakreditasi UNGGUL

Selamat dan Sukses atas keberhasilan Program Studi Sarjana Fisika, Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor atas keberhasilannya meraih Akreditasi “Unggul“sesuai SK BAN-PT No. 10593/SK/BAN-PT/AK-ISK/S/IX/2021 (Berlaku mulai 01 September 2021 – 03 Juni 2026).

Program S1 Sarjana fisika adalah Program Studi ke tiga di Indonesia ( setelah ITB dan UI) yang memperoleh Peringkat Akreditasi UNGGUL pada saat ini (data hingga 01 September 2021). Program S1 Sarjana Fisika IPB juga merupakan program S1 ketiga di IPB yang memperoleh akreditasi UNGGUL (setelah Prodi Teknik Pertanian dan Biosistem serta Prodi S1 Kimia).

Kami nantikan kehadiran Anda calon calon mahasiswa unggul untuk berkuliah dan berprestasi di sini, di prodi FISIKA UNGGUL IPB.

Mahasiswa Departemen Fisika IPB Kembali Mengukir Prestasi Gemilang di Ajang Internasional, “Gold Medals in Our Hand”

Sebuah capaian yang sangat membanggakan di tingkat Internasional kembali diukir oleh Tim Chillator yang terdiri atas Ananda Thalia, Aldi Destia Lesmana, dan Vanya Azzahra Chairunnisa di bawah bimbingan oleh Dr. Akhiruddin, M.Si dari Departemen Fisika IPB. Tim sebelumnya (Tim ALTEX-ID) yang terdiri dari Ananda, Aldi, dan Rohul Rizki, juga memperoleh penghargaan gold medal dalam kompetisi World Young Inventor Exhibition pada tahun 2020 (https://www.republika.co.id/berita/qkijcn374/mahasiswa-fisika-ipb-raih-medali-emas-dalam-wyie-di-malaysia).

Chillator diperlombakan dalam event Japan Design, Idea, and Invention Expo (JDIE) yang diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) dan bekerjasama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA). INNOPA bertanggung jawab dalam mempublikasikan, menyeleksi, dan merekomendasikan perwakilan dari Indonesia ke event tersebut. Kategori yang diperlombakan tidak hanya penemuan atau desain, tetapi juga seni, teknologi, dan pertunjukan. Penjurian dilakukan secara virtual berupa presentasi dan tanya jawab oleh WIIPA.

Tim ini mengangkat isu terkait chillator yang merupakan perangkat yang dapat mendeteksi kehalalan makanan halal dengan teknik autentikasi yang andal dan cepat untuk berbagai produk daging halal. Chilator berupa perangkat resistif non-invasif serta portable yang dirancang untuk membedakan ayam halal dari ayam non-halal dan kesegarannya. Alat ini terdiri dari dua pasang elektroda, mikrokontroler, LCD, baterai dan data logger. Prinsip dari alat ini adalah mengukur resistansi ayam menggunakan metode pengukuran resistivitas 4 probe. Probe luar yang terbuat dari karbon akan mengalirkan arus ke ayam dan probe bagian dalam yang terbuat dari besi akan mengukur beda potensial.

Chilator digunakan dengan cara menempelkan bagian probe pada sampel ayam yang ingin diukur, kemudian hasil pengukuran akan diolah pada mikrokontroler hingga muncul di LCD berupa nilai resistansi sampel dan informasi mengenai kesegaran sampel dan termasuk ayam tiren atau bukan. Bagian daging ayam yang diamati adalah dada, paha, dan sayap ayam yang dipotong dengan baik tidak (ayam tiren). Berdasarkan data yang diperoleh, ayam halal memiliki rentang nilai resistansi 6,15 Ω– 28,53 Ω, sedangkan ayam tiren memiliki rentang nilai resistansi 1,68 Ω – 7,83 Ω. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai resistansi ayam yang tidak dipotong dengan baik (ayam tiren) lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang dipotong dengan baik (ayam halal) dan nilai resistansi akan meningkat seiring dengan menurunnya kesegaran sampel.

“Proses pengerjaan lomba ini cukup panjang, mulai dari pencarian ide, pembuatan alat, hingga penjurian. Namun insight baru seperti kepekaan akan permasalahan yang terjadi di masyarakat dan bagaimana mencari solusinya diperoleh dari ajang ini. Semoga kedepannya alat ini dapat dipatenkan dan diimplementasikan di masyarakat. Selain itu, harapan kami, pencapaian ini juga dapat menjadi penyemangat agar semakin banyak mahasiswa Fisika peka terhadap permasalahan di masyarakat dan dapat berkontribusi dalam bentuk apapun”, papar Ananda Thalia.

Artikel ini telah dimuat dalam Harian Kompas online (https://www.kompas.com/edu/read/2021/08/25/061100771/mahasiswa-ipb-ciptakan-alat-deteksi-ayam-halal-dan-tiren?newnavbar=1&page=all)

Physics Talk #9 : “What are Black Holes Actually”

Departemen Fisika IPB pada hari Kamis, 28 Juli 2021 menyelenggarakan IPB Physics Talk #9. Kegiatan ini merupakan rangkaian kuliah umum dwi-mingguan yang dilangsungkan secara daring (webinar). Pada webinar ke-9 ini dihadirkan pakar Fisika Teori dari Institut Teknologi Bandung dengan topik “What are Black Holes Actually”. Acara ini diselenggarakan secara daring menggunakan fasilitas Zoom serta disiarkan secara langsung (online streaming) di kanal youtube Departemen Fisika IPB di link berikut: (https://www.youtube.com/watch?v=ReNtMm17gm8 ). Acara ini dimoderatori oleh Dr.rer.nat. hendradi Hardhienata yang merupakan salah satu staf pengajar dari Departemen Fisika IPB. Webinar ini tidak hanya dihadiri sivitas Departemen Fisika IPB saja, namun dihadiri juga oleh dosen dan mahasiswa dari universitas lain serta kalangan umum/masyarakat luas.

Dalam pemaparannya, Dr. Andi Octavian Latief memaparkan bahwa dalam Teori Relativitas Umum (TRU), selain menjelaskan tentang kelengkungan ruang waktu, juga menjelaskan akan adanya objek lain yg tidak kalah menariknya yakni black hole atau lubang hitam. Lubang hitam serupa dengan planet atau bintang tetapi memiliki rapat massa dan gravitasi yang sangat tinggi sehingga cahaya yang melewatinya pun akan terhisap dan tidak mampu keluar dari lubang hitam tersebut. Lubang hitam ini memiliki singularitas kurvatur di titik pusatnya dan bernilai tak terhingga. Selain itu, lubang hitam memiliki koordinat singularitas (event horizon) di radius semu tertentu. Radius horizon lubang hitam dapat dideskripsikan secara matematis yakni radius Schwarzschild.

Pemaparan selanjutnya terkait apa yg berada di dalam lubang hitam? Beberapa ide telah dikemukakan oleh pakar fisika teori terkait hal ini. Ide yang pertama adalah lubang hitam berupa gravastar yang diperkenalkan oleh Mazur dan Mottola. Ide utamanya adalah gravitational star (gravastar) adalah objek yang interiornya adalah de Sitter spacetime dan eksteriornya adalah Schwarzschild spacetime yang kedua-duanya adalah vakum. Dan ide yang kedua adalah lubang hitam merupakan graviton condensate yg dikemukakan oleh Dvali dan Gomez pada tahun 2013. Ide ini memandang lubang hitam sebagai interaksi yg lemah antar graviton kondensat Bose-Einstein yang terjadi pada titik kritis kuantum dari transisi fasa. Namun, secara umum masih banyak misteri yg belum dapat dipecahkan melalui teori-teori ini dan bahkan menimbulkan hal-hal baru yang menunggu untuk dibuktikan.

Melalui sesi diskusi, salah seorang peserta Dr. Firdaus Nuzur menanyakan tentang kajian termodinamika gravastar dan perbandingan antara graviton condensate dan lubang hitam yang menurut beliau merupakan dua hal bertolak belakang. Dr. Andi dalam pemaparannya menjelaskan bahwa aspek termodinamika gravastar sudah banyak dibahas terkait entropi dan tekanan di event horizon dari sebuah lubang hitam yang diumpamakan sebagai gravastar. Dalam TRU dijelaskan bahwa akibat adanya kelengkungan ruang waktu, maka dua massa yang berdekatan akan berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan teori gravastar bahwa lubang hitam bukan berupa massa tapi graviton condensate yang dapat menimbulkan kelengkungan ruang waktu yg spesifik. Jadi secara umum, kelengkungan ruang waktu dapat disebabkan oleh massa atau graviton condensate. Jika disebabkan oleh graviton condensate di quantum critical point maka akan menjadi lubang hitam dan jika disebabkan oleh massa biasa maka akan membentuk kelengkungan yg biasa. Namun masih banyak hal yg belum bisa terjawab dari teori ini.

Pada sesi penutup, Prof. Husin Alatas selaku ketua Divisi Fisika Teori, Departemen Fisika menjelaskan bahwa physics talk diadakan untuk memotivasi mahasiswa untuk terus belajar, membuka wawasan dan mempererat kolaborasi antar akademisi. Penelitian-penelitian terkait lubang hitam sendiri sudah banyak digeluti oleh Prof Husin Alatas berkolaborasi dengan Prof, Bobby Gunara dan Dr. Andy Octavian Latief.

Keren banget, mahasiswa Fisika IPB sukses raih medali dan penghargaan di KNMIPA

Selamat kepada mahasiswa Fisika pemenang KN-MIPA dari Departemen Fisika IPB.

KNMIPA merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan ajang kompetisi sains tingkat nasional jenjang pendidikan tinggi yang terdiri dari Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologi. Pada tahun 2021, kompetisi ini dilakukan secara daring.

Dosen Pembimibing:

Dr. Mersi Kurniati, Dr. Setyanto Tri Wahyudi, Abdul Djamil Husin, M.Si, Dr.rer.nat. Hendradi Hardhienata, Dr. Agus Kartono, dan Dr. Faozan

Link berita: https://pusatprestasinasional.kemdikbud.go.id/2021/04/26/pengumuman-pelaksanaan-knmipa-pt-tahun-2021/