Mantapp…Program Studi S1 Fisika FMIPA IPB Terakreditasi UNGGUL

Selamat dan Sukses atas keberhasilan Program Studi Sarjana Fisika, Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor atas keberhasilannya meraih Akreditasi “Unggul“sesuai SK BAN-PT No. 10593/SK/BAN-PT/AK-ISK/S/IX/2021 (Berlaku mulai 01 September 2021 – 03 Juni 2026).

Program S1 Sarjana fisika adalah Program Studi ke tiga di Indonesia ( setelah ITB dan UI) yang memperoleh Peringkat Akreditasi UNGGUL pada saat ini (data hingga 01 September 2021). Program S1 Sarjana Fisika IPB juga merupakan program S1 ketiga di IPB yang memperoleh akreditasi UNGGUL (setelah Prodi Teknik Pertanian dan Biosistem serta Prodi S1 Kimia).

Kami nantikan kehadiran Anda calon calon mahasiswa unggul untuk berkuliah dan berprestasi di sini, di prodi FISIKA UNGGUL IPB.

Mahasiswa Departemen Fisika IPB Kembali Mengukir Prestasi Gemilang di Ajang Internasional, “Gold Medals in Our Hand”

Sebuah capaian yang sangat membanggakan di tingkat Internasional kembali diukir oleh Tim Chillator yang terdiri atas Ananda Thalia, Aldi Destia Lesmana, dan Vanya Azzahra Chairunnisa di bawah bimbingan oleh Dr. Akhiruddin, M.Si dari Departemen Fisika IPB. Tim sebelumnya (Tim ALTEX-ID) yang terdiri dari Ananda, Aldi, dan Rohul Rizki, juga memperoleh penghargaan gold medal dalam kompetisi World Young Inventor Exhibition pada tahun 2020 (https://www.republika.co.id/berita/qkijcn374/mahasiswa-fisika-ipb-raih-medali-emas-dalam-wyie-di-malaysia).

Chillator diperlombakan dalam event Japan Design, Idea, and Invention Expo (JDIE) yang diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) dan bekerjasama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA). INNOPA bertanggung jawab dalam mempublikasikan, menyeleksi, dan merekomendasikan perwakilan dari Indonesia ke event tersebut. Kategori yang diperlombakan tidak hanya penemuan atau desain, tetapi juga seni, teknologi, dan pertunjukan. Penjurian dilakukan secara virtual berupa presentasi dan tanya jawab oleh WIIPA.

Tim ini mengangkat isu terkait chillator yang merupakan perangkat yang dapat mendeteksi kehalalan makanan halal dengan teknik autentikasi yang andal dan cepat untuk berbagai produk daging halal. Chilator berupa perangkat resistif non-invasif serta portable yang dirancang untuk membedakan ayam halal dari ayam non-halal dan kesegarannya. Alat ini terdiri dari dua pasang elektroda, mikrokontroler, LCD, baterai dan data logger. Prinsip dari alat ini adalah mengukur resistansi ayam menggunakan metode pengukuran resistivitas 4 probe. Probe luar yang terbuat dari karbon akan mengalirkan arus ke ayam dan probe bagian dalam yang terbuat dari besi akan mengukur beda potensial.

Chilator digunakan dengan cara menempelkan bagian probe pada sampel ayam yang ingin diukur, kemudian hasil pengukuran akan diolah pada mikrokontroler hingga muncul di LCD berupa nilai resistansi sampel dan informasi mengenai kesegaran sampel dan termasuk ayam tiren atau bukan. Bagian daging ayam yang diamati adalah dada, paha, dan sayap ayam yang dipotong dengan baik tidak (ayam tiren). Berdasarkan data yang diperoleh, ayam halal memiliki rentang nilai resistansi 6,15 Ω– 28,53 Ω, sedangkan ayam tiren memiliki rentang nilai resistansi 1,68 Ω – 7,83 Ω. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai resistansi ayam yang tidak dipotong dengan baik (ayam tiren) lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang dipotong dengan baik (ayam halal) dan nilai resistansi akan meningkat seiring dengan menurunnya kesegaran sampel.

“Proses pengerjaan lomba ini cukup panjang, mulai dari pencarian ide, pembuatan alat, hingga penjurian. Namun insight baru seperti kepekaan akan permasalahan yang terjadi di masyarakat dan bagaimana mencari solusinya diperoleh dari ajang ini. Semoga kedepannya alat ini dapat dipatenkan dan diimplementasikan di masyarakat. Selain itu, harapan kami, pencapaian ini juga dapat menjadi penyemangat agar semakin banyak mahasiswa Fisika peka terhadap permasalahan di masyarakat dan dapat berkontribusi dalam bentuk apapun”, papar Ananda Thalia.

Artikel ini telah dimuat dalam Harian Kompas online (https://www.kompas.com/edu/read/2021/08/25/061100771/mahasiswa-ipb-ciptakan-alat-deteksi-ayam-halal-dan-tiren?newnavbar=1&page=all)

Physics Talk #9 : “What are Black Holes Actually”

Departemen Fisika IPB pada hari Kamis, 28 Juli 2021 menyelenggarakan IPB Physics Talk #9. Kegiatan ini merupakan rangkaian kuliah umum dwi-mingguan yang dilangsungkan secara daring (webinar). Pada webinar ke-9 ini dihadirkan pakar Fisika Teori dari Institut Teknologi Bandung dengan topik “What are Black Holes Actually”. Acara ini diselenggarakan secara daring menggunakan fasilitas Zoom serta disiarkan secara langsung (online streaming) di kanal youtube Departemen Fisika IPB di link berikut: (https://www.youtube.com/watch?v=ReNtMm17gm8 ). Acara ini dimoderatori oleh Dr.rer.nat. hendradi Hardhienata yang merupakan salah satu staf pengajar dari Departemen Fisika IPB. Webinar ini tidak hanya dihadiri sivitas Departemen Fisika IPB saja, namun dihadiri juga oleh dosen dan mahasiswa dari universitas lain serta kalangan umum/masyarakat luas.

Dalam pemaparannya, Dr. Andi Octavian Latief memaparkan bahwa dalam Teori Relativitas Umum (TRU), selain menjelaskan tentang kelengkungan ruang waktu, juga menjelaskan akan adanya objek lain yg tidak kalah menariknya yakni black hole atau lubang hitam. Lubang hitam serupa dengan planet atau bintang tetapi memiliki rapat massa dan gravitasi yang sangat tinggi sehingga cahaya yang melewatinya pun akan terhisap dan tidak mampu keluar dari lubang hitam tersebut. Lubang hitam ini memiliki singularitas kurvatur di titik pusatnya dan bernilai tak terhingga. Selain itu, lubang hitam memiliki koordinat singularitas (event horizon) di radius semu tertentu. Radius horizon lubang hitam dapat dideskripsikan secara matematis yakni radius Schwarzschild.

Pemaparan selanjutnya terkait apa yg berada di dalam lubang hitam? Beberapa ide telah dikemukakan oleh pakar fisika teori terkait hal ini. Ide yang pertama adalah lubang hitam berupa gravastar yang diperkenalkan oleh Mazur dan Mottola. Ide utamanya adalah gravitational star (gravastar) adalah objek yang interiornya adalah de Sitter spacetime dan eksteriornya adalah Schwarzschild spacetime yang kedua-duanya adalah vakum. Dan ide yang kedua adalah lubang hitam merupakan graviton condensate yg dikemukakan oleh Dvali dan Gomez pada tahun 2013. Ide ini memandang lubang hitam sebagai interaksi yg lemah antar graviton kondensat Bose-Einstein yang terjadi pada titik kritis kuantum dari transisi fasa. Namun, secara umum masih banyak misteri yg belum dapat dipecahkan melalui teori-teori ini dan bahkan menimbulkan hal-hal baru yang menunggu untuk dibuktikan.

Melalui sesi diskusi, salah seorang peserta Dr. Firdaus Nuzur menanyakan tentang kajian termodinamika gravastar dan perbandingan antara graviton condensate dan lubang hitam yang menurut beliau merupakan dua hal bertolak belakang. Dr. Andi dalam pemaparannya menjelaskan bahwa aspek termodinamika gravastar sudah banyak dibahas terkait entropi dan tekanan di event horizon dari sebuah lubang hitam yang diumpamakan sebagai gravastar. Dalam TRU dijelaskan bahwa akibat adanya kelengkungan ruang waktu, maka dua massa yang berdekatan akan berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan teori gravastar bahwa lubang hitam bukan berupa massa tapi graviton condensate yang dapat menimbulkan kelengkungan ruang waktu yg spesifik. Jadi secara umum, kelengkungan ruang waktu dapat disebabkan oleh massa atau graviton condensate. Jika disebabkan oleh graviton condensate di quantum critical point maka akan menjadi lubang hitam dan jika disebabkan oleh massa biasa maka akan membentuk kelengkungan yg biasa. Namun masih banyak hal yg belum bisa terjawab dari teori ini.

Pada sesi penutup, Prof. Husin Alatas selaku ketua Divisi Fisika Teori, Departemen Fisika menjelaskan bahwa physics talk diadakan untuk memotivasi mahasiswa untuk terus belajar, membuka wawasan dan mempererat kolaborasi antar akademisi. Penelitian-penelitian terkait lubang hitam sendiri sudah banyak digeluti oleh Prof Husin Alatas berkolaborasi dengan Prof, Bobby Gunara dan Dr. Andy Octavian Latief.

Keren banget, mahasiswa Fisika IPB sukses raih medali dan penghargaan di KNMIPA

Selamat kepada mahasiswa Fisika pemenang KN-MIPA dari Departemen Fisika IPB.

KNMIPA merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan ajang kompetisi sains tingkat nasional jenjang pendidikan tinggi yang terdiri dari Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologi. Pada tahun 2021, kompetisi ini dilakukan secara daring.

Dosen Pembimibing:

Dr. Mersi Kurniati, Dr. Setyanto Tri Wahyudi, Abdul Djamil Husin, M.Si, Dr.rer.nat. Hendradi Hardhienata, Dr. Agus Kartono, dan Dr. Faozan

Link berita: https://pusatprestasinasional.kemdikbud.go.id/2021/04/26/pengumuman-pelaksanaan-knmipa-pt-tahun-2021/

Prof. Husin Alatas, Dosen Fisika IPB University memaparkan Misteri Alam Semesta pada ALMI Scientist Series 07

ALMI Scientist Series 07 diselenggarakan pada hari Rabu, 14 Juli 2021 yang menghadirkan Dr. Reinard Primulando, Ph.D dari Departemen Fisika Universitas Kristen Parahyangan (Unpar) dan Prof. Dr. Husin Alatas dari Departemen Fisika, IPB University. Scientist series ini membahas topik “Menjelajahi Misteri Alam Semesta: Energi Gelap dan Materi Gelap”. Dalam sambutannya, Ketua ALMI (Akademi Ilmuwan Muda Indonesia), Dr. Sri Fatmawati, yang juga merupakan Dosen Departemen Kimia, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) menyatakan bahwa melalui kegiatan ini, ALMI berharap dapat menambah wawasan dan pengetahuan peserta terkait banyak bidang tidak hanya Fisika di era pandemi.

Series ini dilakukan secara virtual melalui zoom dan rekamannya dapat disaksikan melalui channel resmi Youtube ALMI (https://www.youtube.com/watch?v=YIhp5f4nKbc).

Fenomena alam semesta banyak dijelaskan melalui Teori Relativitas Umum (TRU) sejak dicetuskan oleh Albert Einstein di tahun 1915. Salah satunya adalah teori ini mampu menjelaskan kehadiran gelombang gravitasi yang ditemukan pada tahun 2016.

Prof. Husin Alatas dalam pemaparannya menjelaskan komposisi alam semesta dimana hanya sekitar 4% merupakan materi yang terlihat, sisanya adalah sekitar 30% materi gelap eksotik dan 40% energi gelap yang tidak diketahui namun anomalinya dapat dirasakan. Materi gelap adalah materi yang tidak dapat terdeteksi dan tidak dapat berinteraksi satu sama lain. Jumlah materi gelap ini sekitar lima kali lebih banyak dari materi yang terlihat di alam semesta. Sementara itu, beberapa asumsi terkait keberadaan energi gelap juga dipaparkan. Spekulasi bahwa energi vakum adalah energi gelap tidak terbukti secara teori sehingga spekulasi lainya yang dapat menjelaskan keberadaan energi gelap yakni kehadiran medan skalar kuitesen yang belum diketahui eksistensinya, modifikasi persamaan Einstein dengan memasukkan skalar Ricci, dan kemungkinan bahwa gravitasi bermassa. Sampai saat ini, energi gelap masih merupakan misteri yang masih menunggu untuk dibuktikan.

Sandy Ekahana, salah seorang penonton Youtube bertanya tentang perkembangan teori Verlinde yang menyatakan gravitasi tanpa materi gelap. Dalam penjelasannya, Dr. Reinhard dan Prof Husin menyatakan bahwa apabila materi gelap tidak dimasukkan dalam kajian gravitasi maka radiasi kosmik yang telah ditemukan sekarang akan menunjukkan hal yang berbeda.

Departemen Fisika IPB University Sambut Mahasiswa Angkatan 57

Senin, 19 Juli 2021 menjadi titik awal mahasiswa program studi S1 Fisika IPB dalam melaksanakan perkuliahan di Departemen Fisika IPB. Setelah setahun menjalani Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU), mereka disambut secara virtual oleh Kepala Departemen Fisika IPB, Dr. Tony Sumaryada beserta jajarannya. Dalam acara penyambutan ini, selain perkenalan dosen dan tenaga kependidikan, mahasiswa diberikan sosialisasi terkait kurikulum S1 Fisika dan dosen penggerak. 

Kaprodi S1 Fisika, Dr. Faozan menguraikan struktur mata kuliah dan kurikulum merdeka belajar kampus merdeka (MBKM). Kurikulum MBKM 2020 ini memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk memilih enrichment course (EC) di luar prodi hingga 20 SKS. Skema yang dicanangkan pemerintah ini menjadi daya tarik karena mahasiswa IPB dapat lebih leluasa mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan mobilitas & kompetensi, minat bakat, kompetisi, serta kepemimpinan & kewirausahaan yang semuanya dapat diakui sebagai kredit. 

Selama mahasiswa belajar di prodi S1 Fisika, mahasiswa akan didampingi oleh dosen penggerak. Sistem perwalian serta hak dan kewajiban mahasiswa terkait dosen penggerak disampaikan oleh Sekprodi S1 Fisika, Nur Aisyah Nuzulia, M.Si. Dosen Penggerak pada K2020 memiliki peran yang lebih luas dibandingkan dengan Pembimbing Akademik. Dalam hal ini, dosen memiliki peran ganda yakni sebagai mentor akademik dan Kemahasiswaan yang akan mendampingi mahasiswa dari semester awal hingga selesai studi. Dosen tidak hanya berperan sebagai penasehat akademik dalam penyusunan rencana studi dan persetujuan KRS, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam penyaluran serta pengembangan minat dan bakat mahasiswa.

Kegiatan ini ditutup dengan tanya jawab oleh mahasiswa yang secara antusias menanyakan kehidupan perkuliahan dan kurikulum pendidikan yang segera ditempuh di semester gasal tahun akademik 2021/2022 bulan Agustus mendatang. 

Dalami Konsep dan Aplikasi Elektrokatalis melalui Physics Talk Seri 8

IPB Physics Talk pada seri ke-8, kembali hadirkan pakar fisika terapan pada Kamis, 15 Juli 2021. Hadir secara virtual dosen Departemen Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, Dr.Eng. Muhammad Iqbal, ST, MT. Dengan presentasi bertajuk “Desain Rasional Sintesis Material Berarsitektur Nano untuk Aplikasi Katalisis”, Dr. Iqbal menjelaskan dengan terperinci tentang material katalis, mulai dari apa itu katalis, deskriptor dan sifat material elektrokatalis, strategi desain, karakterisasi, hingga penelitian-penelitian yang telah berhasil dilakukan oleh grup risetnya.

Katalis sendiri merupakan suatu zat yang terlibat dalam suatu reaksi tanpa terkonsumsi dalam reaksi tersebut, berfungsi mempercepat reaksi atau menurunkan energi aktivasi agar reaksi dapat terjadi dan menghasilkan produk. Reaksi katalisis bersifat siklik dan karakteristik katalis dapat ditentukan berdasarkan aktivitas, selektivitas, dan stabilitas. “Katalis banyak digunakan di industri, terutama petrokimia. Namun, aplikasi yang marak belakangan ini adalah elektrokatalis, yang digunakan dalam berbagai aplikasi seperti fuel cells, water-splitting, dan reduksi CO2, ” ungkap alumni Waseda University ini.

Dr. Iqbal kemudian menceritakan pengalaman beliau dalam desain rasional sintesis sebuah katalis, dimana diperlukan penelitian teoritis dan eksperimentalis. Penelitian teoritis berhubungan erat dengan proses identifikasi deskriptor, yaitu parameter yang digunakan untuk menjelaskan tren atau kecenderungan dari aktivitas katalis terhadap suatu reaksi katalitik. Deskriptor kemudian memberikan informasi pada eksperimentalis untuk mendesain sintesis material nano yang diperlukan. Strategi yang digunakan pada desain sintesis umumnya bertujuan untuk meningkatkan situs aktif melalui pembuatan katalis berukuran nano, multistructure, dan variasi bentuk, atau meningkatkan aktivitas intrinsik. Beliau juga menunjukkan berbagai arsitektur nano pada material dan geometri unik yang dapat dicapai sesuai kebutuhan deskriptor katalis.

Penggunaan machine learning juga menjadi tren baru dalam desain elektrokatalis. Dari data eksperimen dari banyak grup di seluruh dunia, dicluster dan dikombinasikan dengan hasil numerik untuk menghasilkan hubungan yang lebih akurat antara deskriptor dengan sifat material. “Pemanfaatan machine learning ini merupakan tren kedepan untuk menghasilkan material katalis yang lebih efisien lagi kedepannya.” Beliau menambahkan.

Dalam sesi diskusi, Dr. Irzaman dan Dr. Setyanto mendiskusikan tentang berbagai riset nanomaterial yang telah dilakukan di Departemen Fisika IPB. Acara diakhiri dengan closing statement dari Ketua Divisi Fisika Terapan, Dr. Irmansyah yang mengungkapkan pentingnya berbagi ilmu untuk saling belajar dan pentingnya riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Dr. Iqbal merupakan narasumber kedua yang membawakan topik fisika terapan. Sebelumnya pada Physics Talk seri ke-4 20 Mei lalu, Divisi Fisika Terapan, Departemen Fisika IPB University juga mengundang praktisi fisika yaitu Arga Aridarma,M.T., staf RnD PT Tesena Inovindo.  Topik yang dibawakan yaitu “Konsep ABG (Academics – Business – Government) dalam proses penelitian” yang tentunya membuka wawasan baru akan aplikasi Fisika di dunia industri.  (RFA)

Rekaman kegiatan ini dapat disimak di https://youtu.be/PmbEhVQE-Rw

Program Sinergi 2021 Telah Dibuka!

Pendaftaran program Sinergi tahun akademik 2021/2022 telah dibuka!

Program ini adalah program pendidikan sarjana dan magister yang dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan dalam bidang ilmu yang linier/relevan. Mahasiswa yang telah menyelesaikan studi paling sedikit 110 SKS selama 6 semester dan memenuhi syarat bisa mendaftar dan berpeluang untuk menyelesaikan S1-S2 dalam 10-11 semester dengan beasiswa UKT.

Segera daftar sebelum 27 Juli!

Infomasi lebih lanjut dan berkas persyaratan dapat disimak pada flyer berikut dan halaman unduh

“Small is the New Big” Pakar Nanomaterial Kimia UI berbagi pengalaman riset di IPB Physics Talk seri ke 7

Hari Kamis, 1 Juli 2021, Departemen Fisika IPB kembali menyelenggarakan Physics talk seri ke 7 yang kali ini menghadirkan pakar nanomaterial dari Departemen Kimia, Universitas Indonesia yakni Munawar Khalil, S.Si, M.Eng.Sc, Ph.D. Beliau merupakan alumni Departemen Kimia IPB angkatan 40 (2003) yang menamatkan pendidikan doktoralnya di New Mexico Tech, USA. Tema yang diangkat adalah “Small is the new big: Advanced Nanomaterials for Energy, Environment, and Biomedical Application”. Acara ini diselenggarakan secara virtual menggunakan fasilitas Zoom serta disiarkan secara langsung (online streaming) di kanal youtube Departemen Fisika IPB di link berikut: (https://www.youtube.com/watch?v=6fvOEw7nio8)

Webinar ini dimoderatori oleh Dr. Sitti Yani yang merupakan dosen Departemen Fisika IPB dari Divisi Fisika Teori. Webinar ini tidak hanya dihadiri sivitas Departemen Fisika IPB saja, namun dihadiri juga oleh dosen dan mahasiswa dari universitas lain serta kalangan umum/masyarakat luas. 

Di awal presentasinya, Dr. Munawar Khalil memaparkan beberapa teknologi nanomaterial yang telah dikembangkan oleh grup risetnya di UI dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian terbaru beliau difokuskan pada pengembangan protokol sintesis material fungsional berupa nanopartikel metal, semikonduktor, perovskite, nanopartikel hibrida, dan quantum dot dengan ukuran dan bentuk geometrik tertentu serta facet kristal yang terkontrol. Nanomaterial fungsional ini dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti energi terbarukan (sel surya), lingkungan (pengelolaan limbah), serta aplikasi biomedis. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa nanomaterial dapat digunakan dalam mengkonversi energi matahari menjadi energi listrik dengan memanfaatkan fotokatalis TiO2. Selain itu, nanomaterial juga dapat diaplikasikan dalam teknik penghantaran obat (drug delivery), kemoterapi, biosensor, serta untuk mengoptimalkan produksi minyak bumi yang biasa dikenal sebagai enhanced oil recovery (EOR). Dalam sesi diskusi, Dr.rer.nat Hendradi Hardhienata, dosen dari divisi Fisika Teori menjelaskan bahwa Departemen Fisika IPB telah melakukan beberapa penelitian teoritik dan komputasional terkait pemodelan interaksi nanomaterial pada berbagai permukaan antara lain menggunakan metode Density Functional Theory (DFT). Kepakaran Dr. Munawar Khalil di bidang eksperimental dan kepakaran dosen-dosen Fisika IPB di bidang teori dan computational material design merupakan kombinasi yang luar biasa jika dipadukan dalam suatu proyek kolaborasi riset bersama di bidang nanomaterial. Terlebih dalam era “Kampus Merdeka” di mana kerjasama penelitian maupun pendididkan antar universitas sangat didukung untuk menghasilkan sumber daya manusia yang agile (lincah) dan adaptif dengan perkembangan teknologi serta mampu menghasilkan terobosan dan inovasi baru di berbagai bidang untuk kesejahteraan umat manusia. Saat pemberian sertifikat apresiasi kepada pembicara, Kepala Divisi Fisika Teori, Prof. Dr. Husin Alatas menyatakan kegiatan IPB Physics talk seri ke7 ini telah memberikan insight yang luar biasa terkait pemahaman dunia nanosains dan pengaplikasiannya dalam berbagai teknologi serta membuka peluang kerjasama penelitian dan pendidikan (pembimbingan bersama) yang solid dan berkelanjutan antara Departemen Fisika IPB dan Kimia UI.

Press Release: Physics in Action, Creativity and Learn (Pascal)

Kegiatan Physics in Action, Creativity and Learn (Pascal) merupakan kegiatan tahunan HIMAFI yang dilaksanakan pada 3 Juli – 12 Agustus 2021. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Departemen Fisika dan organisasi mahasiswa di departemen fisika yang didakan oleh mahasiswa fisika angkatan 55 dan 56 bagi mahasiswa fisika angkatan 57.

Kegiatan dilakukan secara daring melalui platform Zoom dengan 4 kali rangkaian acara serta penugasan yang diberikan kepada peserta sesuai dengan nilai nilai yang ingin disampaikan. Nilai nilai tersebut diantaranya Bersama, Berinovasi, Berpikir Kritis. Dari kegiatan ini, diharapkan mahasiwa fisika angkatan 57 mampu lebih mengenal serta berkontribusi di kegiatan departemen fisika

Berikut beberapa testimoni oleh peserta.

Nama: Dadan Hidayatuloh (NIM : G7401201057)

Awalnya saya berpikir bahwa Pascal ini akan sangat membosankan, apalagi online gini kan ya. Tapi asli seru sihh banyak banget ilmu yang bisa di dapat dan membuat kita kenal dengan teman seangkatan kita, dengan kakak tingkat kita juga, yang tentunya itu nambah relasi juga kan ya. Meskipun penugasannya banyak, tapi saya rasa tugas ini kecil di bandingkan dengan tugas di departemen nanti, yahh sekalian latihan juga kan yahh buat nugas nanti di departemen. Alhamdulillah juga nihh, semenjak Pascal ini saya mulai perlahan mengenal departemen fisika, dari pemaparan dosen-dosen, juga dari sharing-sharing sama kakak tingkat tentunya, asli sihhh sharing-sharing sama kakak tingkatnya seru asli, mereka juga pada berbagi pengalaman selama di departemen fisika (suka dan dukanya). Yahh udah nggak sabar banget asli buat bisa kuliah offline dan bertemu dengan orang-orang hebat di departemen fisika.

Nama : Ayesya Nasta Listiyorini (NIM : G7401201027)

Yang saya rasakan selama Pascal, pertama takut berbuat kesalahan, senang karena ditugaskan untuk menghubungi kakak tingkat dalam rangka sharing-sharing karena kalau ga karena tugas itu saya yg introvert ini ga akan berani ngajak kenalan kakak tingkt hehehe, jadi lebih tau apa aja yang ada di departemen fisika, dapat saran saran buat kehidupan di departemen pada masa mendatang juga. Pokonya yang paling berkesan sih penugasan sharing dengan kakak tingkat dan teman seangkatan, bener bener memperluas koneksi juga pengalaman. Ohiya satu lagi, saya yang biasanya suka diem jadi tertuntut buat komunikatif heheheh