Ditengah Pandemi, Mahasiswa-Mahasiswi Fisika IPB masih bisa merebut medali Perunggu di PIMNAS ke-33

pimnas2

Ditengah Pandemi, Mahasiswa-Mahasiswi Fisika IPB masih bisa merebut medali Perunggu di PIMNAS ke-33

Prestasi

Ditengah Pandemi, Mahasiswa-Mahasiswi Fisika IPB masih bisa merebut medali Perunggu di PIMNAS ke-33

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam memfasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi yang telah dipelajarinya di perkuliahan kepada masyarakat luas. PKM diselenggarakan setiap tahun oleh Kemdikbud. Tahun ini, pimnas ke-33 diikuti 101 perguruan tinggi dengan 625 tim dari seluruh Indonesia.

Medali perunggu PIMNAS 33 Fisika IPB

Tahapan lomba tersebut dimulai dari submit ide inovasi pada CIC IPB. Setelah mengalami seleksi ide maka akan dilanjutkan dengan pembuatan proposal yang dikirimkan ke fakultas yang akan dilanjutkan ke IPB. Setelah lolos dari IPB akan disubmit ke Kemdikbud selaku penyelenggara lomba. Kemdikbud akan menyeleksi proposal yang akan didanai untuk dilaksanakan. Maka diperolehlah tim yang lolos didanai. Selanjutnya diseleksi lagi untuk tim yang lolos ke PIMNAS 33, dilaksanakan pada tanggal 25-28 November 2020 secara luring di UGM Yogyakarta dan secara daring.

Prototype alat

Dalam PKM kami mengangkat judul “Optimalisasi Proses Produksi Nata de Coco Melalui Monitoring dengan Metode Absorbansi Serat Optik Berbasis Internet of Things” . Berawal dari permasalahan mitra yang masih mengalami kegagalan produksi yang besar yakni 10-20% dikarenakan faktor bahan baku yaitu air kelapa dan juga bakteri starter yang tida   k optimal serta suhu dan juga tahap fermentasi nata de coco. Melihat permasalahan pada mitra tersebut, Motococohadir sebagai upaya pengoptimalan produksi pada mitra. Alat ini dirancang untuk memantau produksi nata de coco dari bahan baku yaitu air kelapa dan bakteri starter hingga proses Fermentasi nata de coco. Teknologi ini menggunakan sensor serat optik dengan prinsip gelombang evanescent berbasis IoT. Motococo terdiri dari 2 desain alat, pertama untuk fermentasi nata de coco, seiring berjalannya waktu tekstur nata de coco akan memadat sehingga cahaya yang ditransmisikan dari LED ke LDR akan menurun atau absorbansi cahayanya meningkat. Selanjutnya, akan diperoleh data nilai absorbansi terhadap waktu yang akan ditampilkan di website. Desain kedua adalah alat monitoring bahan baku yaitu, kualitas air kelapa (glukosa) dan kuantitas bakteri dengan desain yang portable dan dilengkapi monitor agar data absorbansi bahan baku yang diukur dapat langsung terlihat, serta akan ditampilkan pula pada website. Pendapat mitra terkait alat ini “Pasti alat ini akan banyak peminat, sangat membantu mempermudah pekerjaan, tingkat kegagalan produksi akan rendah, produktivitas akan meningkat, sehingga profit akan naik.” Ananda Thalia: Alhamdulillah merasa bersyukur diberi kesempatan untuk bisa mengikuti PIMNAS 33 ini, kesempatan ini memberi kami banyak pembelajaran baru yang sangat bermanfaat. Selain itu, mendapat teman-teman baru, hingga kisah yang hingga saat ini kami merasa beruntung bisa menjadi salah satu kontingen PIMNAS.  Kami ucapkan pula banyak terima kasih kepada IPB yang telah memfasilitasi kami dengan sangat baik, sehingga kami merasa sangat terbantu. Semoga alat ini dapat direalisasikan sehingga dapat secara langsung membantu mengatasi permasalahan para produsen nata de coco. Dosen pembimbing PKM ini adalah Dr. Akhiruddin Maddu. Selamat kepada tim PKM Fisika IPB serta dosen pembimbing.

Tim PIMNAS-33 Fisika IPB