Mahasiswa Departemen Fisika IPB Kembali Mengukir Prestasi Gemilang di Ajang Internasional, “Gold Medals in Our Hand”

Sebuah capaian yang sangat membanggakan di tingkat Internasional kembali diukir oleh Tim Chillator yang terdiri atas Ananda Thalia, Aldi Destia Lesmana, dan Vanya Azzahra Chairunnisa di bawah bimbingan oleh Dr. Akhiruddin, M.Si dari Departemen Fisika IPB. Tim sebelumnya (Tim ALTEX-ID) yang terdiri dari Ananda, Aldi, dan Rohul Rizki, juga memperoleh penghargaan gold medal dalam kompetisi World Young Inventor Exhibition pada tahun 2020 (https://www.republika.co.id/berita/qkijcn374/mahasiswa-fisika-ipb-raih-medali-emas-dalam-wyie-di-malaysia).

Chillator diperlombakan dalam event Japan Design, Idea, and Invention Expo (JDIE) yang diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) dan bekerjasama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA). INNOPA bertanggung jawab dalam mempublikasikan, menyeleksi, dan merekomendasikan perwakilan dari Indonesia ke event tersebut. Kategori yang diperlombakan tidak hanya penemuan atau desain, tetapi juga seni, teknologi, dan pertunjukan. Penjurian dilakukan secara virtual berupa presentasi dan tanya jawab oleh WIIPA.

Tim ini mengangkat isu terkait chillator yang merupakan perangkat yang dapat mendeteksi kehalalan makanan halal dengan teknik autentikasi yang andal dan cepat untuk berbagai produk daging halal. Chilator berupa perangkat resistif non-invasif serta portable yang dirancang untuk membedakan ayam halal dari ayam non-halal dan kesegarannya. Alat ini terdiri dari dua pasang elektroda, mikrokontroler, LCD, baterai dan data logger. Prinsip dari alat ini adalah mengukur resistansi ayam menggunakan metode pengukuran resistivitas 4 probe. Probe luar yang terbuat dari karbon akan mengalirkan arus ke ayam dan probe bagian dalam yang terbuat dari besi akan mengukur beda potensial.

Chilator digunakan dengan cara menempelkan bagian probe pada sampel ayam yang ingin diukur, kemudian hasil pengukuran akan diolah pada mikrokontroler hingga muncul di LCD berupa nilai resistansi sampel dan informasi mengenai kesegaran sampel dan termasuk ayam tiren atau bukan. Bagian daging ayam yang diamati adalah dada, paha, dan sayap ayam yang dipotong dengan baik tidak (ayam tiren). Berdasarkan data yang diperoleh, ayam halal memiliki rentang nilai resistansi 6,15 Ω– 28,53 Ω, sedangkan ayam tiren memiliki rentang nilai resistansi 1,68 Ω – 7,83 Ω. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai resistansi ayam yang tidak dipotong dengan baik (ayam tiren) lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang dipotong dengan baik (ayam halal) dan nilai resistansi akan meningkat seiring dengan menurunnya kesegaran sampel.

“Proses pengerjaan lomba ini cukup panjang, mulai dari pencarian ide, pembuatan alat, hingga penjurian. Namun insight baru seperti kepekaan akan permasalahan yang terjadi di masyarakat dan bagaimana mencari solusinya diperoleh dari ajang ini. Semoga kedepannya alat ini dapat dipatenkan dan diimplementasikan di masyarakat. Selain itu, harapan kami, pencapaian ini juga dapat menjadi penyemangat agar semakin banyak mahasiswa Fisika peka terhadap permasalahan di masyarakat dan dapat berkontribusi dalam bentuk apapun”, papar Ananda Thalia.

Artikel ini telah dimuat dalam Harian Kompas online (https://www.kompas.com/edu/read/2021/08/25/061100771/mahasiswa-ipb-ciptakan-alat-deteksi-ayam-halal-dan-tiren?newnavbar=1&page=all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *