Dosen Fisika IPB memperkenalkan Instrumen IoT untuk deteksi fenomena Colony Collapse Disorder pada lebah pekerja Apis cerana pada Acara Bee Fest 2020

Dosen Departemen Fisika, Dr. Tony Ibnu Sumaryada, tampil menjadi pembicara tamu pada acara Webinar Bee Fest 2020 secara daring di Universitas Padjajaran. Tema Bee Fest tahun 2020 adalah: Accelerating Social Innovation through the Internet of Things.

Pada acara tersebut dipresentasikan hasil penelitian kolaborasi antara Departemen Biologi dan Fisika IPB University terkait pengembangan instrumen pencatat aktivitas lebah pekerja Apis cerana menggunakan Internet of Things (IoT) dan pengolahan citra. Penelitian tersebut penting untuk mengevaluasi kesehatan jumlah populasi lebah pekerja pada suatu daerah,  terkait dengan fenomena Colony Collapse Disorder (CCD), yaitu fenomena hilangnya lebih pekerja dari suatu daerah meninggalkan lebah ratu dan sarangnya. Hilangnya lebah pekerja ini dapat menganggu penyerbukan berbagai macam tanaman dan buah-buahan yang penting bagi ketahanan pangan suatu bangsa, juga mengurangi produksi madu yang dihasilkan. Sebagai contoh, pada tahun 2007-2008 terjadi fenomena CCD yang menyebabkan hilangnya sepertiga populasi lebah pekerja di Amerika Serikat dan berdampak cukup besar terhadap industri pertanian dan madudi sana.  Fenomena CCD disebabkan oleh berbagai macam faktor antara  lain perubahan iklim global, deforestasi, penggunaan pestisida dan insektisida yang tidak sesuai regulasi, penggunaan insektisida yang menganggu syaraf dan orientasi navigasi lebah pekerja, penggunaan fogging nyamuk yang tidak terkendali, serta parasit varroa. Kemampuan deteksi dini akan perubahan jumlah lebah pekerja melalui pencatatan aktivitasnya menjadi kunci dalam pencegahan dan penanggulangan CCD. Selama ini deteksi aktivitas tersebut dilakukan secara manual, sehingga kurang efektif dan memakan waktu, data yang dihasilkanpun kurang akurat untuk dijadikan dasar penarikan kesimpulan. Pencatatan aktivitas secara otomatik dan akurat disertai data-data kondisi lingkungan secara real-time dimungkinkan melalui penerapan Teknologi IoT. Hal itulah yang coba di-inisiasi oleh Departemen Biologi dan Departemen Fisika IPB melalui kerjasama penelitian. Tim kecil yang terdiri dari Dr. Rika Raffiudin dari Departemen Biologi, dan Dr. Tony Sumaryada, Dr. Akhiruddin Maddu, Drs. Moh Nur Indro, M.Sc dibantu mahasiswa fisika (kini sudah lulus) yaitu Angga Nurhiman, S.Si dan Alifa Almira, S.Si telah berhasil membuat purwarupa Instrumen pencatat aktivitas lebah pekerja Apis cerana secara otomatis menggunakan IoT dan pengolahan citra.

Purwarupa tersebut telah berhasil mencatat secara otomatis aktivitas berbagai kelompok lebah pekerja berdasarkan warna tagging yang berbeda serta mengakuisisi data aktivitas dan kondisi lingkungan (suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya) secara real-time. Beberapa contoh hasil pengolahan data juga telah ditampilkan pada webinar tersebut dan menghasilkan informasi yang sangat berguna untuk mengidentifikasi ada tidaknya gejala CCD di suatu tempat.

Bee Fest adalah rangkaian acara yang mengangkat topik Internet of Things dalam mengakselerasi social impact/dampak sosial dari inovasi sosial dalam sektor apikultur/perlebahan. Bee Fest merupakan pra-event dari Final Conference program riset dan inovasi SAMS (Smart Apiculture Management Services); sebuah proyek internasional yang memberikan solusi ICT dalam sektor apikultur melalui sistem monitoring dan remote sensing bagi koloni lebah untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan & produktivitas koloni lebah yang diikuti oleh Indonesia, Ethiopia, Austria, Latvia dan Jerman dan didukung oleh EU Horizon 2020. Acara tersebut memberikan gambaran terkait perlebahan Indonesia saat ini dan peranan IoT sebagai solusi untuk menjawab tantangan perlebahan Indonesia di masa depan. Acara ini juga akan membahas IoT dengan metode yang lebih membumi agar dapat menyadarkan masyarakat akan fungsinya dalam konteks sosial dan konteks perlebahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *