Fisika IPB Berduka

Pada hari Senin, 4 Januari 2021, Departemen Fisika berduka karena kehilangan salah seorang dosen terbaiknya dan salah satu the founding fathers (pendiri) Jurusan (sekarang Departemen) Fisika di Institut Pertanian Bogor yakni Bapak Dr. Ir. Kiagus Dahlan, M.Sc.

Almarhum Bapak Dr. Ir. Kiagus Dahlan, M.Sc saat berpulang masih menjabat sebagai Kepala Unit Laboratorium Riset Unggulan (Advanced Research Laboratory ) IPB dan Kepala Divisi Biofisika di Departemen Fisika. Sebelumnya beliau adalah mantan Kajur/Kadep Fisika IPB (1997-2007) serta Wakil Dekan FMIPA IPB (2007-2018), Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa baru (2018-2019). Beliau merupakan sosok dosen teladan yang paripurna dan aktif dalam berbagai hal baik sebagai dosen, peneliti, administrator, dan juga seorang ustadz yang penuh nasihat dan taushiyah.

Di dalam kelas beliau dikenal sangat interaktif dan fun dalam mengajarkan ilmu fisika di kelas melalui contoh-contoh riil terkait kehidupan sehari-hari serta penuh nasihat kebaikan dalam memberikan kuliah di kelas. Sebagai peneliti beliau dikenal sebagai innovator yang unggul, terutama dalam mengembangkan biomaterial berbasis bahan alam, termasuk diantaranya tulang dan gigi buatan untuk aplikasi biomedis.

Semoga amal bakti beliau kepada kemajuan IPB (terutama FMIPA dan Fisika IPB) diterima Allah SWT sebagai amal jariyah yang tidak ada putus-putusnya, dan beliau diampuni segala kesalahannya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan. Fisika IPB sangat kehilangan beliau, semoga sosok dan keteladanan beliau dapat terus hidup dan menginspirasi kita semua untuk selalu bekerja ikhlas dan memberikan yang terbaik bagi nusa bangsa.

Source: Tony Sumaryada

 

Pakar Reaktor Fusi Nuklir memberikan kuliah tamu bagi Mahasiswa Fisika IPB

Departemen Fisika IPB menyelenggarakan kuliah tamu secara daring pada tanggal 17 Desember 2020 bagi mahasiswa Fisika IPB semester 7  yang mengambil matakuliah Fisika Nuklir dan Partikel. Kuliah tamu di isi oleh pakar reaktor fusi nuklir yang merupakan dosen Fisika Universitas Pertahanan, Dr. Mutia Meireni. Beliau merupakan lulusan S3 dari Univ. Aix Marseille yang mendalami penelitian tentang reaktor fusi dan pernah tergabung dalam tim riset kolaborasi dunia ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor). Melalui kuliah tamu tersebut diharapkan mampu membuka wawasan mahasiswa Fisika IPB mengenai perkembangan terkini teknologi Fusi Nuklir melalui pemaparan langsung dari peneliti yang terlibat dalam kolaborasi ITER tersebut. Kuliah tamu berlangsung selama 2 jam yang diisi dengan pemaparan materi tentang perkembangan reaktor fusi nuklir di dunia dan tanya jawab oleh peserta.

Energi sangat dibutuhkan oleh manusia dalam menjamin keberlanjutan hidupnya di bumi. Saat ini, sumber energi alternatif banyak dikembangkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon yang ketersediaannya makin menipis serta mengakibatkan kerusakan lingkungan akibat emisi karbon dioksida yang tinggi yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

Salah satu sumber energi alternatif yang diperkenalkan adalah pembangkit listrik tenaga nuklir yang menggunakan reaksi fusi. Reaktor nuklir ini sangat berbeda dengan reaktor nuklir yang saat ini banyak dikembangkan di Indonesia yakni reaktor nuklir yang menggunakan reaksi fisi. Reaktor ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan sumber energi lainnya karena tidak menghasilkan limbah hidrokabron dan limbah radioaktif.

Hingga saat ini, beberapa negara di dunia yang tergabung dalam konsorsium ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) yang berlokasi di Saint Paul-lez-Durance melakukan penelitian bersama terkait reaktor fusi yang digadang-gadang akan menghasilkan reaktor tokamak terbesar di dunia. Konsorsium ini beranggotakan 35 negara (Uni Eropa, China, India, Japan, Korea, Russia and United States).

Desain Tokamak di Saint Paul-lez-Durance

Isu yang berkaitan dengan reaktor fusi ini adalah apakah reaktor fusi ini dapat bocor dan membahayakan karena suhu di inti tokamak 10 kali lebih panas dari inti matahari. Walaupun suhunya sangat panas, namun apabila reaktor ini mengalami kebocoran maka plasma yang panas ini seketika akan collapse (runtuh) dan hilang, sehingga peluang terjadinya kebocoran dan ledakan sangat kecil sekali bahkan hampir tidak ada.

Source: Sitti Yani dan Tony Sumaryada